Senin, 20 Januari 2014

Jadi, Aku Pergi Ya?

Hari ini cukuplah beban sesekali yang kamu buat namun bertubi-tubi.
Sudah aku bilang. Kamu jangan senggol hatiku terlalu kasar kan?
Selama ini aku hanya menahan sebuah perasaan. Yang mungkin menurut kamu itu tidak penting tapi tolong. Ini hatiku.
Kenapa harus buat permainan baru dan kamu selipkan aku disitu sebagai pemain. Bukannya sudah cukup permainan kemarin yang ajaibnya masih buat aku bertahan? Mereka bilang aku bodoh, aku mau berjuang. Mereka hanya tidak taukan, aku berjuang untuk perasaanku.
Jangan menungguku letih, lepaskan jika kamu memang ingin melepaskan satu persatu. Tapi jangan cari aku lagi.
Aku bangga kamu sudah berubah. Melebihi ekspetasiku dulu. Kamu sekarang jauh lebih baik.. anggap saja masa tugasku selesai, dan aku harus melanjutkan perjalanan..
Disini bukan tempatku. Ini tempatmu dan kenangan itu. Titip rinduku. Aku pergi, aku pergi untuk bahagiaku..

Minggu, 19 Januari 2014

Dear Kamu...

Dear Kamu…
Terima kasih ya, masih mendampingi hingga detik ini sampai harinya datang. Terima kasih mau memulai meski sama-sama merasakan jatuh karna seseorang. Ini terlalu berlebihan ya kata-katanya.
Iya, aku ingat. Masih jelas. Bagaimana cara awal kita kenal dulu. Bisa di bilang ini cukup aneh bukan. Aku yang baru putus, begitu juga kamu. Jarang yang tidak terlalu jauh untuk di bilang sudah move on. Aku baru seminggiu – kamu juga baru 3 minggu setelah beberapa tahun pacaran. Sadar? Ini semua tidak semudah yang aku bayangkan awalnya. Kenapa? Awal hubungan ini ada bukannya aku sudah bilang, aku masih ingin menikmati duniaku. Menikmati sakitku. Bahkan aku memintamu untuk membantuku untuk mengobati bukan? Sampai ternyata aku tau kamu belum benar-benar menyelesaikan masalahmu dulu dengan dia. Aku terlalu frontal? Ah masa bodoh…
Dia sempat menyebut namaku bukan? Iya saat itu kita berdua masih tidak ingin langsung membawa hubungan ini langsung ke publik. Entah akhirnya kamu memutuskan untuk memilihku walaupun saat itu masih terbesit untuk kembali dengannya bukan? Hei, aku merasakan hal yang sama waktu itu. Ternyata bukan hanya itu, banyak hal yang kamu tutup-tutupi sampai akhirnya kamu sendiri yang memunculkan itu ke permukaan. Awalnya aku hanya menganggap aku bodoh masih bertahan berdiri di samping kamu saat itu. 
Awalnya kita berdua tidak benar-benar memastikan hubungan ini serius karna sama-sama masih saling mencari bukan? Ah ternyata Tuhan inginkan berbeda. Belum genap sebulan kamu dan aku akhirnya memutuskan untuk membawa hubungan ini ke tahapan yang lebih serius. Sama-sama saling mengobati, sama-sama berusaha membawa dalam kebaikan. Iya, ini yang kamu maukan sayang? Bahkan belum genap sebulan kamu sudah bawa aku ke orang tuamu, di depan ibu kamu bilang “ma.. Aku serius sama dia” dan akhirnya kita memutuskan untuk mengulang komitmen kita lagi kali ini. Entahlah… Kenapa hingga saat ini kamu masih bertahan, atau aku masih bertahan. Padahal, iya.. berkali-kali aku minta kamu untuk pergi. 
Terima kasih ya, mengajarkan aku untuk mencintai sebuah kekurangan. Untuk menerima bahwa itu semua juga bagian dari hubungan ini. Kalau saat itu aku merasa bahwa mencintai kamu itu salah, tapi kali ini aku bersyukur. Karena aku bisa belajar banyak hal, bahwa ikhlas tidak mengharapkan apapun. 
Mungkin aku pernah menyesal memilih kamu, tapi setelah semuanya. Aku menyadari, bahwa Tuhan tak akan pernah salah meletakkan aku disamping seseorang yang selalu bersyukur atas kehadiranku.