Rabu, 25 Juli 2012

Ini Bukan Tentang 'Tuhan Punya SosNet'

Mungkin buat beberapa orang, mengungkapkan doa di blog atau di SosNet bakalan ada celotehan "emang Tuhan punya twitter/facebook/blogger?" bukan, bukan soal 'Tuhan punya SosNet' loh ya disini, bukannya takabur juga sih.. Cuma mau ngeshare aja. 
Kemarin, atau kapan aku lupa. Sempat ngebaca quotes "When we're busy to grow up, we forget that out parents grow too. yes, Growing Old" re : ketika kita sibuk menjadi dewasa, kita lupa kalau orang tua kita juga tumbuh, ya! jadi tua. Aku tekankan juga disini, ga ada maksud buat curhat tentang apa yang uda di alami. akhir-akhir ini, jadi mikir "gimana kalo Tuhan minta papa/bunda pulang, sedangkan aku belom mampu penuhi harapan mereka?" naudzubillah jangaaaan sampeeee dulu :')
Mungkin sekarang yang di Atas lagi negur aku, dengan bikin aku sering sekali ngerasa homesick selama di Malang, padahal dulu boro-boro deh kangen rumah. Bawaannya pengen diMalang terus, sekarang? Aku lebih milih habisin waktu dirumah. Sering kesel ga sih kalo tiap hari bawaannya di marain terus? oke, sekali lagi. nanti suatu saat, ketika kita uda ngga bisa denger omelan mereka itu hal pertama yang kita kangenin.

bukan kepo, sempat ngebuka FB dan muncul di Home.
cewek lagi ngatain orang tuanya, dia CEWEK bro. oke, mungkin cukup berlebihan penekannya. tapi... Tolonglah, sadar ga sih.. Mereka lho yang ngurus kita dari kecil, dari gabisa apa-apa sampe sekarang kita bisa seenaknya aja!
Aku nulis beginian bukan maksud buat sok alim kok. bukaan, aku nulis disini juga di hadapkan sama fakta-fakta yang akhirnya bikin aku ngaca juga. gimana aku masih belom bisa baik sama ortu. di tunjukan sama dimana bapak sering banget sakit, dan itu bikin ketakutan tersendiri ke aku. selama ini, aku selalu berusaha kuat itu karna aku tau, siapapun yang tinggalin aku tetep ada bapak sama ibu dirumah. tempat aku selalu bisa pulang kalo-kalo dunia lagi ngga bersahabat. 
menyadari aku belom mampu jadi apa yang bapak sama ibu harepin, aku cuma bisa berharap aku segera tumbuh jadi apa yang bapak sama ibu harepin. di hadapin dengan kenyataan orang tuaku pun makin tua. 
Tuhan, mungkin kalau bisa. sakitnya bapak turun ke aku aja. itu lebih baik daripada aku liat bapak terus-terusan sakit. 

"mereka ngga pernah minta imbalan dari kamu nduk, mereka cuma mau kamu bisa jadi kebanggaan mereka. mumpung masih bisa dan orang tua masih ada nduk. jadi anak baik, walaupun nakal jangan lama-lama." -pesen seseorang yg sudah alm.

Ya Allah, 
aku ga minta aneh-aneh selain kebahagiaan dan kesehatan buat keluarga.
terutama buat bapak sama ibu.
kasih mereka umur panjang ya Allah.. aamiiiin O:)

sebenernya uda mau nulis panjang, cuma sampe sini dulu aja sharingnya ~ semoga manfaat dan jadi bahan intropeksi kita masing-masing yak :)

love and kiss,
strange :)

Selasa, 24 Juli 2012

Sebagian Hidupku Butuh Dia

berawal dari percakapan diri sendiri,


“Otak : gimana? 
Hati : apanya? 
Otak : ya akhirnya kamu gimana ? 
Hati : sebagian hidupku butuh dia
Otak : sama”



entah,
rasa yang sama muncul lagi,
ngga peduli seperti apa dia, yang kita tau adalah kita sayang sama dia bukan?
meski akhirnya,
dari dua kubu itu saling serang ego. berkali-kali jatuh di orang yang salah, ah bukan bukan salah. di waktu yang salah lebih tepatnya, meski ada di antara mereka yang terbaik. tapi selalu saja dengan ending yang sama.
menyerah? iya, akhirnya menyerah dan memilih berdamai dengan waktu. memulai berdamai dengan melupakan hal-hal konyol yang terjadi kemarin.
menyerah membuat harapan itu dan menyerahkan semua hal yang belum mampu suatu saat akan sama ceritanya. 
sekali lagi, disini aku bukan curhat. 
tapi berapa sih di antara kalian yang memutuskan untuk naif sama perasaan sendiri? menunggu sesuatu yang jelas-jelas jauh dan ya.. mungkin ga akan pernah tergapai lagi?
yakin, 
pasti ada kan selisih paham antara otak sama hati yang sama-sama kadang ga pernah bisa sinkron? hati memutuskan sayang, tapi otak? masih memaksa untuk mempertimbangkan segala hal. apalagi kalau pernah ngerasain gimana mental down. dan akhirnya, ga bisa ngelawan rasa trauma itu sendiri. aku pun juga punya ketakutan tersendiri, tapi? kita ga pernah tau apa yang terjadi nanti. aku cuma berhenti untuk jadi sosok naif, iyaa. pada akhirnya aku memaksa otak mengakui "hey, aku juga sebenernya butuh dia"

Rabu, 18 Juli 2012

Antara Mengingat dan Melupakan


Aku lupa,
Aku berada di posisi seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali.
Berkali kali kurasa, namun berkali-kali juga aku mampu bertahan tanpa penyangga
Tapi kali ini? Ah Tuhan hanya inginkan aku merasakan perasaan ini agak lama.
Mungkin juga Tuhan menginginkanku untuk rehat dulu?
Iya, Tuhan menjadikan ini bukan tanpa alasan!
“berapa kali kamu seperti ini? Ini bukan kali pertama kan?”
Iya… seseorang mengingatkan betapa kuatnya aku dulu.
Iya dulu! Dulu sebelum separuh hidupku di hempaskan angin.
Dulu sebelum hatiku di terjang badai.
Muak! Iya kali ini aku muak
Muak ketika hati dan otakku berselisih
Ketika otakku memohon untuk lupa tapi rasa memaksa untuk tinggal
Pernah aku coba untuk bertahan ketika semua hanya jadi serpihan
Lantas aku mundur dan menyerah, meninggalkan serpihan itu bersama potongan hatiku
Cukup adil? Kamu mendapatkan hidupmu, menghancurkan hidupku.
Adil? Ah mungkin, agar aku mengerti betapa berharganya hatiku
Muak ketika aku ingat, didalam cerita hanya ada aku dan kamu.
Sampai akhirnya bertahan menjadi sebuah kenangan yang disebut cinta dan luka
Ah peduli setan! Biarkan sakit ini jadi kenangan. Serpihan itu tinggal kau injak lalu buang bersama kenangannya.
Ya Tuhan, ketika kau ijinkan aku mengingatnya. Ijinkan pula aku melupakannya.

Kamis, 12 Juli 2012

Lanjut di Koma, atau Berhenti di SebuahTitik


Kita tak akan pernah tau, apa yang akan terjadi esok dan nanti. Kita hanya tau, “mungkin” dan “akan”. Masalalu mengajarkan sesuatu yang kita tak akan pernah tau dimana ujungnya. Masalalu hanya lembaran kertas yang telah kita gunakan, dan yang kita pilih untuk menutup atau meneruskannya.

            Semua cerita punya akhir atau lanjutan, cerita yang kita punya kita sendiri yang tentukan.Masalalu hanya mengajarkan bagaimana kamu untuk kuatdan tegar disaat yang bersamaan ketika hatimu harus ditekan untuk melepas apa yang seharusnya di lepas. Masalalu mengajarkan bagaimana kamu harus kuatdisaat yang sama ketika hatimu di tekan untuk membuat keputusan yang kita sendiri masih ragu apakah kita bisa. Masalalu mengajarkan kita tegas, ketika hatimu dipaksa untuk membahagiakan dirimu sendiri di banding kamu membahagiakan orang lain yang jelas-jelas mengacuhkan kebahagiaanmu.

            Semua seperti naskah cerita, ada akhir bahkan ada kelanjutan yang kita tidak pernah tau bagaimana kelanjutannya.Tuhan selalu menyelipkan sebuahcerita yang kita tak akan pernah tau. Seperti koma yang ada dalam cerita, setelah ada koma pasti ada sesuatu yang kita tak akan pernah tau apa kelanjutannya. Masalalu pun juga ada dimana dia berada di sebuah koma yang berarti kita punya pilihan untuk melanjutkan atau lantas menutup di sebuah titik?

“Tuhan memberikan kertas dan penanya, tapi Tuhan tidak selipkan penghapus ketika kita menjalaninya” kita di ijinkan menulis cerita apapun di kertas itu, tapi Tuhan sengaja tidak memberikan penghapusnya.Meskipun kita menuliskan sebuah kalimat salah di kerta situ, Tuhan tidak akan berikan penghapusnya hanya untuk memberikan pelajaran baru. Tuhan memberikan secarik kertas lagi, membiarkan kita ber-imaginasi ceria tentang hidup.Setelah itu, serahkan.Dia akan hapus apa yang tidak perlu kita tulis. Ada pun cerita itu salah dan Tuhan tidak menghapusnya, Tuhan hanya berikan koma dimana kita masih bisa meluruskan dan melanjutkan sebuah cerita yang lebih baik.entah apa pun yang terjadi, Tuhan selalu berikan koma di cerita kita. Tapi nanti, entah kapan.Tuhan akan minta penanya kembali, dan tidak memberikan lembar baru lagi. namunTuhan akan berikan tanda titik dimana Tuhan meminta kita pulang.