Kamis, 22 November 2012

Malam - Pertengahan November : Aku Masih Ingin Jadi Yang Terakhir

Sebenarnya aku sudah enggan peduli, berapa kali kita saling menyalahkan satu sama lain dan akhirnya kamu sebagai pihak yang mengalah? Dan lagi-lagi ku tekankan egoku? Aku sadar, Seterusnya pun kamu tak akan seperti ini. Aku ingin berubah, bukan... Bukan, bukan cuma ingin. Tapi sudah perlahan ku ubah. Tak ayal, mungkn berlebihan kah jika aku menulis... Oke, kamu laki-laki hebat!
Sudah berapa kali kamu menyingkirkan egomu? Cuma untuk, "Bukan Aku, tapi kamu dan KITA" seharusnya bukan cuma "aku dan kita, tapi KAMU". Sebenarnya aku takut... Tuhan pasti beri cobaan yang lebih. Oke, kali ini.. Ketakutan itu seharusnya bisa di tutupi.
Kali ini buku harianku baru, kamu taukan? Dari awal halaman aku ingin tulis semua tentang kamu. Tentang aku dan sekali lagi tentang kita. Aku sadar, dulu masing-masing dari kita pernah menyayangi orang sedalam-dalamnya dan setulus-tulusnya. Mempertahankan dia yang kita cinta mati-matian. Bahkan kamu, pernah kan mencintai dia sedalam itu, setulus itu? Lalu kamu nobatkan dia sebagai cinta matimu? Tapi sayang, dia tidak sehebat itu.. Kamu boleh nilai aku sombong, ah masa bodoh ya? Tapi malaikat pun tau, atas nama cinta.. Maaf, kali ini aku pemenangnya.
Pemenang apa?
Kamu ingat, siapa yang bisa menghidupkan rasamu? Itu aku, siapa yang buat kamu tersenyum? Itu aku. Ah... Mungkin itu karna terbiasa, terbiasa kita bersama setiap harinya. Aku sadar, kali ini. Aku tulis cerita di lembar baru buku harianmu, yang sudah ku bersihkan dari debu tentunya. Kali ini, aku tak hanya tulis luka. Tapi pasti ku selipkan lembar tawa dan senyum di setiap tintanya.
Tapi mungkin aku salah? Bertahan di rasa yang sama, di sela embun, di dinginnya mendung dan hangatnya senja? Lalu ku lukiskan kamu di langit malam? Munafik jika aku menyimpan keinginan itu sendiri.. Sedangkan angin berhembus lalu berhenti.. Aku tak ingin paksakan egoku, sungguh.. Hanya saja... "Aku masih ingin jadi yang terakhir" - Ucapku-beruap di kaca.

Senin, 19 November 2012

Cinta Mereka Indah.. Sayang Ditentang Tuhan

Seperti yang kita tau, banyak perbedaan yang di jadikan alasan untuk bersatu ataupun berpisah. Kali ini, saya mau menuliskan sesuatu yang sebenarnya berdasarkan pengalaman dari beberapa teman saya.

Cintanya indah, tapi sayang di tentang Tuhan.
Faktanya,
orang mencintai bukan hanya laki-laki dan perempuan. Tapi di dunia ini, mereka yang 'sama' pun saling mencintai. Terkadang iri, bagaimana bisa mereka menjalani hubungan dan mempertahankan mati-matian untuk sebuah cinta yang sejatinya tidak akan pernah bersatu dalam sebuah ikatan?
Mereka mengikhlaskan, asalkan sekarang mereka bersama.
Oke, ini di mulai dari hubungan seorang Butchie (wanita yang seperti laki-laki) dan Femme (wanita yang feminim sekali). Mereka berdua teman baik saya, dan mereka berada di Surabaya. Kadang kalau mereka main ke Malang, mereka menunjukkan bahwa mereka bahagia menjalani hubungan seperti itu. Memang sempat iri... Tapi saya tau, di balik kebahagiaan mereka ada beban yang mereka sendiri kadang ngga sanggup untuk memikulnya.
Sampai akhirnya, teman saya yang Butchie datang ke saya dan ya... Entah ada apa, tiba-tiba menangis. Saya bingung pada akhirnya, setelah dia tenang baru dia bercerita. Dia terlalu sayang... Iya, dengan wanitanya. Dan dia ingin serius. Saya cuma bisa diam, takut berbicara karna salah-salah pasti menyinggung bukan?
Saya tau persis bagaimana mereka saling mencintai dan sama-sama saling takut kehilangan, bahkan mereka tau apa yang di jalani secara KERAS di tentang Tuhan.
Saya tak mampu menghakimi, saya tau. Cinta mereka sungguh indah.. iya, indah melebihi cinta yang semestinya.

Jumat, 16 November 2012

Mendung - di pertengahan November ; "Kamu Boleh Bilang, aku... Bodoh"


“katakan aku bodoh, mencintamu sedalam ini. menantikanmu hingga ku sembunyikan rindu ini sendirian.. lalu melepasmu, menemukan jalan yang sebenarnya kamu cari...

dan itu bukan aku.
lalu kenapa, di kukung rasa yang aku sendiri bahkan tak pernah mengerti ini tentang apa. Ya, katakan aku tolol. Merindumu, lalu menyimpan senja itu hingga tenggelam di permukaan laut. Sekali lagi, yang kamu cari benar-benar bukan aku.
Kamu bilang yang kamu cari itu aku, ini bukan bagaimana aku menggenggam erat hati ini. Tapi bagaimana aku memaknai warna yang sengaja di torehkan pelangi. Untukku, aku kadang mencari dimana letak bahagiaku ketika aku tak bersamamu. Malam ini, di ruangan ini.
Kamu memutuskan menjauh, tapi aku masih di sini. Di tempat yang sama ketika aku memulai untuk merengkuhmu dan memastikan kamu ada disela-sela doaku ketika aku bersujud di sajadahku.
Ya! Sekali lagi, katakan aku terlalu idiot. Ku tutup pintu yang pernah terbuka, ku pastikan hanya kamu yang memegang kuncinya. Tapi? Mendung ceritakan hal yang berbeda sekali ini.
Maaf ya, kalau sekali lagi aku harus torehkan luka sendiri di hatiku. Mencintai malam terlalu, dan aku tau itu menyayat embun esok..
Ya, katakan aku bodoh. Menyimpan sebentuk rasa yang utuh… yang selalu berharap, kamu takdirku”