Rabu, 27 Agustus 2014

Berjuang Tak Sebercanda Itu

Sudah lama, blog ini menganggur karna aku sendiri lebih doyan menulis di tempat lain beberapa waktu ini..
Sampai akhirnya menuntaskan sebuah rasa penasaran yang terkadang akhirnya membunuh sedikit demi sedikit.
Banyak tanda tanya, berputar dengan ambisinya untuk mendapat sebuah jawaban. Yang terus memaksaku untuk mencari jawabannya satu persatu agar puzzle itu selesai pada waktunya.
7.30 pagi, aku belum tidur sejak semalam. Mata urung di beristirahat sepertinya, walau aku tau kapasitas badanku tidak memungkinkan diri seperti robot.
Oke, kembali lagi ke tanda tanya itu..
Banyak hal yang ingin segera aku selesaikan, salah satunya apa iya aku sudah benar-benar memenangkan hatimu?
Apa iya, kamu sudah melupakan segalanya?
Atau kamu masih hidup di sisa -sisa bayangannya?
Semakin lama aku mendapat jawaban, otakku akan memaksa untuk mendapatkan jawaban itu entah bagaimana caranya.
"Jangan sengaja pergi biar di cari, berjuang tak sebercanda itu" - Sudjiwo Tedjo.
Kenyataannya memang seperti itu. Seharusnya aku tak ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja itu membuat senjaku semakin meredup di telan malam.
Rahasia apalagi yang kau sembunyikan dariku?
Pagi ini otakku masih memaksaku bekerja, hatiku masih terjaga.. memaksaku menerima, apapun yang sedang Tuhan kerjakan, itu hanya sebagian rahasia yang akan membuatku mengerti..

Selasa, 11 Februari 2014

Untuk Sebuah Jarak yang Membuat Segalanya Berarti

Hai sayang,
kadang aku merasa benci..
Membenci ketika kita sudah di pertemukan dan dipisahkan lagi oleh jarak.
Membenci bahwa tak setiap harinya aku melihat tawamu dan menggenggam tanganmu..
Membenci tak setiap harinya kamu ada hanya sekedar mengajakku keluar untuk pergi makan.
Membenci bahwa tak setiap harinya, kamu ada untuk memelukku ketika aku letih menghadapi hari yang semakin tidak karu-karuan..

Tapi selepas itu..
Aku menghargai semua ini..
Bahwa setiap waktu yang kita lalui, menjadi semakin berharga untuk di sia-siakan..
Bahwa melalui jarak, kita sama-sama tau bahwa hubungan ini terlalu berharga disandingkan dengan keegoisan.

Percaya - jarak tidak akan terlalu lama memisahkan kita..
Percaya - cita-cita kita berdua segera terwujud.
Percaya - kita segera di persatukan.

Aku mencintai sejauh jarak memisahkan..
Aku mencintai sejauh rindu mencari cara untuk bertemu.
Aku mencintai sejauh kepercayaan yang jadi pondasi.
Aku mencintai sejauh kesetiaan meski sering di uji.
Aku mencintai.. tanpa jeda, tanpa koma..

Untuk kamu yang sedang aku rindukan hatinya ♡

Aku Mengagumimu Dari Jauh..

Pertama kali aku jatuh cinta, adalah pertama kali aku lihat senyum itu.. Senyum yang menyembunyikan luka..
Pertama kali aku menatapmu, adalah pertama kali aku lihat kamu diam memandangi jendela entah apa yang kamu tunggu..
Pertama kali aku rela membiarkan wajahmu terukir dalam memoriku, adalah pertama kali kamu mendatangiku malam itu. Berusaha membuat kejutan yang sama sekali tak pernah aku duga.

Tapi aku hanya mengagumi.. mengagumi setiap tutur katamu..
Mengagumi bahwa kamu memiliki hati sebesar itu walau telah di sakiti..
Mengagumi, bahwa rasa ini berada di orang yang tepat. Meski kamu tak pernah tau..
Bahwa dalam doaku, selalu ada namamu..
Bahwa dalam hari-hariku, rindu ini semakin menggebu.

Percayalah,
Aku baik-baik saja.. Ini lebih dari cukup.
Melihatmu bahagia dengan yang kau pilih..
Munafik ya? Kenapa aku tidak berjuang untuk hatiku, karna aku terlalu takut.. ketika rasa ini tersampaikan, ini semua akan berubah jadi keposesifan yang luar biasa.
Akan berubah menjadi ketakutan akan kehilangan yang luar biasa.
Cukup seperti ini,
Menjamahmu lewat doa. Biar Tuhan yang sampaikan..
Biar ini jadi milikmu, mengagumimu dari jauh. Itu lebih dari cukup sayang...


Dari seseorang terdekat yang tak pernah kau tau perasaannya..

Senin, 20 Januari 2014

Jadi, Aku Pergi Ya?

Hari ini cukuplah beban sesekali yang kamu buat namun bertubi-tubi.
Sudah aku bilang. Kamu jangan senggol hatiku terlalu kasar kan?
Selama ini aku hanya menahan sebuah perasaan. Yang mungkin menurut kamu itu tidak penting tapi tolong. Ini hatiku.
Kenapa harus buat permainan baru dan kamu selipkan aku disitu sebagai pemain. Bukannya sudah cukup permainan kemarin yang ajaibnya masih buat aku bertahan? Mereka bilang aku bodoh, aku mau berjuang. Mereka hanya tidak taukan, aku berjuang untuk perasaanku.
Jangan menungguku letih, lepaskan jika kamu memang ingin melepaskan satu persatu. Tapi jangan cari aku lagi.
Aku bangga kamu sudah berubah. Melebihi ekspetasiku dulu. Kamu sekarang jauh lebih baik.. anggap saja masa tugasku selesai, dan aku harus melanjutkan perjalanan..
Disini bukan tempatku. Ini tempatmu dan kenangan itu. Titip rinduku. Aku pergi, aku pergi untuk bahagiaku..

Minggu, 19 Januari 2014

Dear Kamu...

Dear Kamu…
Terima kasih ya, masih mendampingi hingga detik ini sampai harinya datang. Terima kasih mau memulai meski sama-sama merasakan jatuh karna seseorang. Ini terlalu berlebihan ya kata-katanya.
Iya, aku ingat. Masih jelas. Bagaimana cara awal kita kenal dulu. Bisa di bilang ini cukup aneh bukan. Aku yang baru putus, begitu juga kamu. Jarang yang tidak terlalu jauh untuk di bilang sudah move on. Aku baru seminggiu – kamu juga baru 3 minggu setelah beberapa tahun pacaran. Sadar? Ini semua tidak semudah yang aku bayangkan awalnya. Kenapa? Awal hubungan ini ada bukannya aku sudah bilang, aku masih ingin menikmati duniaku. Menikmati sakitku. Bahkan aku memintamu untuk membantuku untuk mengobati bukan? Sampai ternyata aku tau kamu belum benar-benar menyelesaikan masalahmu dulu dengan dia. Aku terlalu frontal? Ah masa bodoh…
Dia sempat menyebut namaku bukan? Iya saat itu kita berdua masih tidak ingin langsung membawa hubungan ini langsung ke publik. Entah akhirnya kamu memutuskan untuk memilihku walaupun saat itu masih terbesit untuk kembali dengannya bukan? Hei, aku merasakan hal yang sama waktu itu. Ternyata bukan hanya itu, banyak hal yang kamu tutup-tutupi sampai akhirnya kamu sendiri yang memunculkan itu ke permukaan. Awalnya aku hanya menganggap aku bodoh masih bertahan berdiri di samping kamu saat itu. 
Awalnya kita berdua tidak benar-benar memastikan hubungan ini serius karna sama-sama masih saling mencari bukan? Ah ternyata Tuhan inginkan berbeda. Belum genap sebulan kamu dan aku akhirnya memutuskan untuk membawa hubungan ini ke tahapan yang lebih serius. Sama-sama saling mengobati, sama-sama berusaha membawa dalam kebaikan. Iya, ini yang kamu maukan sayang? Bahkan belum genap sebulan kamu sudah bawa aku ke orang tuamu, di depan ibu kamu bilang “ma.. Aku serius sama dia” dan akhirnya kita memutuskan untuk mengulang komitmen kita lagi kali ini. Entahlah… Kenapa hingga saat ini kamu masih bertahan, atau aku masih bertahan. Padahal, iya.. berkali-kali aku minta kamu untuk pergi. 
Terima kasih ya, mengajarkan aku untuk mencintai sebuah kekurangan. Untuk menerima bahwa itu semua juga bagian dari hubungan ini. Kalau saat itu aku merasa bahwa mencintai kamu itu salah, tapi kali ini aku bersyukur. Karena aku bisa belajar banyak hal, bahwa ikhlas tidak mengharapkan apapun. 
Mungkin aku pernah menyesal memilih kamu, tapi setelah semuanya. Aku menyadari, bahwa Tuhan tak akan pernah salah meletakkan aku disamping seseorang yang selalu bersyukur atas kehadiranku. 

Rabu, 30 Oktober 2013

3 cinta

 Hujan ini, jujur mengingatkan cerita tentang kita. Sebelum kamu pergi menjauh dengan seorang yang kamu pilih, dengan seorang yang kamu yakini dia lebih segalanya dibanding aku. Kamu pikir, aku tidak akan merasakan sakit? Baik, aku akan mulai cerita dimana kita berdua pernah saling berjanji untuk setia, dan menuliskan cerita hingga waktu itu tiba.
            Kamu ingat, di dekat menara Eiffel sebelum kamu memintaku untuk menjadi penampingmu… Kamu berjanji untuk selalu berdiri disampingku. Entah apapun yang terjadi, kamu berjanji akan selalu mencintai. Aku masih ingat semua janjimu yang pernah kamu ikrarkan sampai kamu melamar aku.. indah ya saat itu? Iya.. Itu yang masih aku ingat hingga saat ini.
            Aku tau kamu sudah bahagia dengan kehidupan yang jauh kamu pilih… Membiarkan aku larut dalam luka berbulan-bulan lamanya, aku masih tetap bertahan menyimpan rasa yang sama. Kamu pikir ini mudah ketika kamu bilang “kamu pasti mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku” lantas melepaskan cincin itu dari jari manismu.
            Kamu tau seberapa lama air mataku terbuang hanya untuk menangisi kepergianmu saat itu, menahan perasaanku sendiri agar berhenti berfikir tentang kamu. Hingga ada seseorang yang datang membasuh lukaku, merawatnya hingga sembuh dan melupakan sepenuhnya tentangmu. Yang membuatku percaya bahwa semua baik-baik saja meski kamu pergi. Tapi perasaan ini masih sama, masih terbagi untukmu. Naïf? Bukan, aku berusaha melindungi perasaanku. Darimu.

            Saat aku mulai melepaskan segalanya tentang kamu, merasakan detak jantung bahagia itu lagi. Kenapa kamu tiba-tiba datang, mengatakan bahwa kamu menyesal melepaskan aku, meminta untuk menjalin kisah yang dulu lagi… Maaf sayang… Maaf, kisah kita usai. Mungkin perasaanku masih terbagi antara kamu dan untuknya, namun maaf sayang… Aku memutuskan untuk mengikrarkan janji di altar bersama dia. 

Minggu, 27 Oktober 2013

Berhenti Menanti BUKAN Berarti Berhenti Mencintai

Lumayan lama ya? Setelah semua kejadian yang kita lewati.. Sampai akhirnya memutuskan berpisah, menanggalkan semua yang pernah terjadi menjadi sebuah memori yang jadi sebuah kenangan. Entah pahit atau manis.
Ingat beberapa kali janji yang kita ikrarkan akhirnya kandas juga?
Menerima segala sesuatu yang bahkan tidak kita harapkan termasuk hal sulit dalam hidupku setelah beberapa lama aku tidak merasakan setitik sakit itu lagi.
Sakitnya berusaha melupakan seseorang yang pernah memberikan sebuah senyum.
Sakitnya berusaha melupakan seseorang yang pernah berjanji menuliskan cerita berdua untuk tumbuh bersama.
Sakitnya berusaha melupakan kenyataan bahwa ternyata cerita kita berbeda.

Kamu sudah jauh beberapa langkah di hadapanku, melepaskan semua cerita kita dan melupakan segala yang pernah terjadi.
Mungkin aku tak cukup baik saat itu dan saat ini...
Mungkin pula aku tak cukup berarti kali ini...

Maaf karna lembar yang aku serahkan hanya lembar yang mungkin memang harus kamu hapus.

Maaf karna aku tak cukup baik...
Maaf karna segalanya masih kurang...
Maaf karna aku tak pernah bisa sempurna...
Maaf untuk ego dan khilafku...
Maaf untuk kecewa yang aku beri...
Maaf untuk segala cerita yang sempat aku tuliskan di lembaranmu...
Maaf untuk kenangan yang aku tinggalkan bahkan (mungkin) kamu enggan mengingatnya.

Terima kasih, karna pernah mencintai aku sedalam-dalamnya, terima kasih karna pernah melakukan segalanya untukku dan untuk kita.

Aku berhenti, bukan... Bukan karna aku letih.
Aku menyadari, aku berharap untuk seseorang yang bahkan tidak melihatku.
Aku menyadari, bahwa apapun yang aku paksa kali ini tidak akan menghasilkan apapun.
Aku menyadari, bahwa kebahagiaanmu bukan aku.

Cari bahagiamu, cari jalanmu sendiri...
Maaf karna menyakitimu sedalam ini...