Minggu, 19 Januari 2014

Dear Kamu...

Dear Kamu…
Terima kasih ya, masih mendampingi hingga detik ini sampai harinya datang. Terima kasih mau memulai meski sama-sama merasakan jatuh karna seseorang. Ini terlalu berlebihan ya kata-katanya.
Iya, aku ingat. Masih jelas. Bagaimana cara awal kita kenal dulu. Bisa di bilang ini cukup aneh bukan. Aku yang baru putus, begitu juga kamu. Jarang yang tidak terlalu jauh untuk di bilang sudah move on. Aku baru seminggiu – kamu juga baru 3 minggu setelah beberapa tahun pacaran. Sadar? Ini semua tidak semudah yang aku bayangkan awalnya. Kenapa? Awal hubungan ini ada bukannya aku sudah bilang, aku masih ingin menikmati duniaku. Menikmati sakitku. Bahkan aku memintamu untuk membantuku untuk mengobati bukan? Sampai ternyata aku tau kamu belum benar-benar menyelesaikan masalahmu dulu dengan dia. Aku terlalu frontal? Ah masa bodoh…
Dia sempat menyebut namaku bukan? Iya saat itu kita berdua masih tidak ingin langsung membawa hubungan ini langsung ke publik. Entah akhirnya kamu memutuskan untuk memilihku walaupun saat itu masih terbesit untuk kembali dengannya bukan? Hei, aku merasakan hal yang sama waktu itu. Ternyata bukan hanya itu, banyak hal yang kamu tutup-tutupi sampai akhirnya kamu sendiri yang memunculkan itu ke permukaan. Awalnya aku hanya menganggap aku bodoh masih bertahan berdiri di samping kamu saat itu. 
Awalnya kita berdua tidak benar-benar memastikan hubungan ini serius karna sama-sama masih saling mencari bukan? Ah ternyata Tuhan inginkan berbeda. Belum genap sebulan kamu dan aku akhirnya memutuskan untuk membawa hubungan ini ke tahapan yang lebih serius. Sama-sama saling mengobati, sama-sama berusaha membawa dalam kebaikan. Iya, ini yang kamu maukan sayang? Bahkan belum genap sebulan kamu sudah bawa aku ke orang tuamu, di depan ibu kamu bilang “ma.. Aku serius sama dia” dan akhirnya kita memutuskan untuk mengulang komitmen kita lagi kali ini. Entahlah… Kenapa hingga saat ini kamu masih bertahan, atau aku masih bertahan. Padahal, iya.. berkali-kali aku minta kamu untuk pergi. 
Terima kasih ya, mengajarkan aku untuk mencintai sebuah kekurangan. Untuk menerima bahwa itu semua juga bagian dari hubungan ini. Kalau saat itu aku merasa bahwa mencintai kamu itu salah, tapi kali ini aku bersyukur. Karena aku bisa belajar banyak hal, bahwa ikhlas tidak mengharapkan apapun. 
Mungkin aku pernah menyesal memilih kamu, tapi setelah semuanya. Aku menyadari, bahwa Tuhan tak akan pernah salah meletakkan aku disamping seseorang yang selalu bersyukur atas kehadiranku. 

Rabu, 30 Oktober 2013

3 cinta

 Hujan ini, jujur mengingatkan cerita tentang kita. Sebelum kamu pergi menjauh dengan seorang yang kamu pilih, dengan seorang yang kamu yakini dia lebih segalanya dibanding aku. Kamu pikir, aku tidak akan merasakan sakit? Baik, aku akan mulai cerita dimana kita berdua pernah saling berjanji untuk setia, dan menuliskan cerita hingga waktu itu tiba.
            Kamu ingat, di dekat menara Eiffel sebelum kamu memintaku untuk menjadi penampingmu… Kamu berjanji untuk selalu berdiri disampingku. Entah apapun yang terjadi, kamu berjanji akan selalu mencintai. Aku masih ingat semua janjimu yang pernah kamu ikrarkan sampai kamu melamar aku.. indah ya saat itu? Iya.. Itu yang masih aku ingat hingga saat ini.
            Aku tau kamu sudah bahagia dengan kehidupan yang jauh kamu pilih… Membiarkan aku larut dalam luka berbulan-bulan lamanya, aku masih tetap bertahan menyimpan rasa yang sama. Kamu pikir ini mudah ketika kamu bilang “kamu pasti mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku” lantas melepaskan cincin itu dari jari manismu.
            Kamu tau seberapa lama air mataku terbuang hanya untuk menangisi kepergianmu saat itu, menahan perasaanku sendiri agar berhenti berfikir tentang kamu. Hingga ada seseorang yang datang membasuh lukaku, merawatnya hingga sembuh dan melupakan sepenuhnya tentangmu. Yang membuatku percaya bahwa semua baik-baik saja meski kamu pergi. Tapi perasaan ini masih sama, masih terbagi untukmu. Naïf? Bukan, aku berusaha melindungi perasaanku. Darimu.

            Saat aku mulai melepaskan segalanya tentang kamu, merasakan detak jantung bahagia itu lagi. Kenapa kamu tiba-tiba datang, mengatakan bahwa kamu menyesal melepaskan aku, meminta untuk menjalin kisah yang dulu lagi… Maaf sayang… Maaf, kisah kita usai. Mungkin perasaanku masih terbagi antara kamu dan untuknya, namun maaf sayang… Aku memutuskan untuk mengikrarkan janji di altar bersama dia. 

Minggu, 27 Oktober 2013

Berhenti Menanti BUKAN Berarti Berhenti Mencintai

Lumayan lama ya? Setelah semua kejadian yang kita lewati.. Sampai akhirnya memutuskan berpisah, menanggalkan semua yang pernah terjadi menjadi sebuah memori yang jadi sebuah kenangan. Entah pahit atau manis.
Ingat beberapa kali janji yang kita ikrarkan akhirnya kandas juga?
Menerima segala sesuatu yang bahkan tidak kita harapkan termasuk hal sulit dalam hidupku setelah beberapa lama aku tidak merasakan setitik sakit itu lagi.
Sakitnya berusaha melupakan seseorang yang pernah memberikan sebuah senyum.
Sakitnya berusaha melupakan seseorang yang pernah berjanji menuliskan cerita berdua untuk tumbuh bersama.
Sakitnya berusaha melupakan kenyataan bahwa ternyata cerita kita berbeda.

Kamu sudah jauh beberapa langkah di hadapanku, melepaskan semua cerita kita dan melupakan segala yang pernah terjadi.
Mungkin aku tak cukup baik saat itu dan saat ini...
Mungkin pula aku tak cukup berarti kali ini...

Maaf karna lembar yang aku serahkan hanya lembar yang mungkin memang harus kamu hapus.

Maaf karna aku tak cukup baik...
Maaf karna segalanya masih kurang...
Maaf karna aku tak pernah bisa sempurna...
Maaf untuk ego dan khilafku...
Maaf untuk kecewa yang aku beri...
Maaf untuk segala cerita yang sempat aku tuliskan di lembaranmu...
Maaf untuk kenangan yang aku tinggalkan bahkan (mungkin) kamu enggan mengingatnya.

Terima kasih, karna pernah mencintai aku sedalam-dalamnya, terima kasih karna pernah melakukan segalanya untukku dan untuk kita.

Aku berhenti, bukan... Bukan karna aku letih.
Aku menyadari, aku berharap untuk seseorang yang bahkan tidak melihatku.
Aku menyadari, bahwa apapun yang aku paksa kali ini tidak akan menghasilkan apapun.
Aku menyadari, bahwa kebahagiaanmu bukan aku.

Cari bahagiamu, cari jalanmu sendiri...
Maaf karna menyakitimu sedalam ini...

Minggu, 07 Juli 2013

Maafkan Untuk Aku Yang Tak Sempurna

Berulang kali aku membawakan keluh kesahku, tanpa jeda sedikit pun agar membuatmu mengerti bahwa aku takkan bisa...
Berulang kali uraian cerita tanpa koma aku utarkan secara gamblang agar kamu mengerti,
Aku masih terduduk sendiri, memahami kamu... Memahami caramu... Memahami bagaimana sesungguhnya aku dimatamu...

Tapi kali ini,
Sudah habis dayaku... Sudah habis air mataku yang menari hampir setiap hari.
Sudah habis dayaku untuk tetap berdiri dan memintamu terus menjalani cerita yang bahkan aku tak pernah paham kemana segalanya berakhir.

Maafkan, aku yang hampir setiap hari memujimu di depan mereka dengan menutupi segala perasaan yang sebenarnya, bahkan aku jauh dari bahagia.
Letih ini bukan cerita berkelanjutan. Aku memutuskan untuk berdiri bersamamu, disampingmu...
Ah...
Lupakan, segalanya berat.
Bukan aku tidak ikhlas, aku hanya letih memperjuangkan orang yang bahkan tidak melihatku barang sebentar.

Aku masih tidak paham dengan definisi ini,
Antologi yang masih jadi tanda tanya besar dengan bualan "Happy Ending"
Bagaimana menurutmu tentang "Sayang yang Menguasai"

Aku bukan seseorang yang bisa terus berdiri disampingmu, selama ini sudah cukup kamu memporak porandakan seluruh ruang hati dan hidupku. Memaksaku untuk mencintai kamu yang bahkan kamu lupa setiap kepingan cerita yang aku punya, itu akan masuk dalam kehidupanku.
Kamu memaksaku untuk dewasa, namun berbatas dengan asa yang kamu miliki.
Bukan sepihak, aku hanya letih membawa "Kita" kalau akhirnya kamu kembalikan lagi menjadi "Cuma Tentang Aku"
Tapi kali ini, tengok aku!
Masih berbekaskah cerita yang aku berikan?
Aku pernah menobatkan kamu sebagai yang terindah, sebagai seseorang yang lebih baik dari ceritaku yang kini sudah ku bakar habis.
Harapan itu kamu bakar sendiri, kamu hapus sendiri. Dengan gantinya kamu menyalahkan aku yang melakukan itu semua. AKU PENYEBAB ITU SEMUA.

Memang ini semua salahku, seharusnya aku berhenti mencinta.. Setelah terluka, boroknya masih basah... Dan kamu menambahkan lagi luka, tepat di sesuatu yang aku sebut dengan hati.
Sadar?
Kamu penyebab aku berubah,
Kamu penyebab aku berpaling,
Kamu penyebab aku mengubur hidup-hidup asa yang pernah ada.
Kamu penyebab aku menarik kata-kata bahwa kamu lebih baik..

Aku menyerah... Iya aku menyerah menambah luka...

Sudut Tanpa Batas...

Ga perlu cari tau, seberapa lama aku akan berdiri disisi yang sama di tengah letih dan jenuhku.
Ga perlu cari tau, seperti apa aku dan kamu nanti.
Ga perlu cari tau, apa aku masih bisa mendampingi kamu dan masa depanmu nanti.

Semua masih abu-abu,
Sama seperti keyakinan aku yang mulai terbengkalai tak berbekas di sudut ruangan gelap tanpa sorot lampu akhir-akhir ini.
Seberapa bisa aku bernyanyi merdu namun sendu yang nantinya di dengar malaikat maut dari dunia sana.

Iya,
Kamu ga perlu cari tau, kamu cukup lihat aku masih berdiri di sisi yang sama.
Masih mengumpulkan keberanian untuk berjalan, entah mendekat atau menjauh..

Kamu ga perlu cari tau apa aku akan berhenti sambil melepaskan kepingan harapan yang sudah mulai tumbuh lalu menghilang.
Ini sebuah antologi,

Untuk apa melibatkan aku jika ini semua tentang kamu dan hidup kamu?
Untuk apa kamu mencari tau segala hal yang terjadi jika kamu membebani pikiranku sedemikian rupa?

Harapan itu usang, iya... Lembar baruku hanya tinggal selembar, pensilku hampir patah. Sedang penghapusku di sembunyikan Tuhan entah dimana.

Maaf... Maaf... Jika masih kurang menyentuh batinmu dengan segala perjuangan yang bahkan hanya kau lihat sepintas,
Maaf... Maaf... Jika anggapanmu tentang perjuanganku hanya dilihat sebagai "menguasai"

Setidaknya Tuhan tau,
Seberapa sering aku meneteskan air mata dan berujar aku ga sanggup tapi masih di kokohkan dengan cinta abadiNya.
Seberapa sering aku memutuskan pergi tapi dikembalikan lagi dijalan yang sama.

Iya,
Aku minta maaf.. Untuk segala hal yang masih tak mampu aku sentuh dengan tangis, dan cerita yang bahkan kamu belum tentu peduli..

Ini masih ruang gelap, di sudut ruangan, tanpa batas. Dan hanya asa yang menguap...

Minggu, 23 Juni 2013

The Worst Part....

Kita berdua punya cara bagaimana menyatukan yang sudah terpisah, entah itu soal kamu atau soal aku… Menyatukan lagi yang sudah using, tidak segampang membalikan telapak tangan bukan?
Kita berdua CACAT? Sadar? Atau memang sekedar imajinasiku menganggap ini pincang?
Kita bahkan enggan menerima, apapun itu.

Kamu sadar…
Egomu dan egoku yang membuat kita jauh, bermusuhan. Meninggalkan satu sama lain hanya untuk memperdebatkan argument kita tidak sepaham. Bukan seperti itu faktanya?
Kenapa kita sibuk saling membenci? Kalau kita bisa saling menyayangi?
Apa salahnya memberikan kesempatan untuk sama-sama merasakan perasaan itu, itu mudah bukan? Kenapa harus menjauh, kalau sekiranya kita di ciptakan untuk saling berdekatan?
Kenapa harus saling membenci kalau kita punya kesempatan untuk saling menyatukan?
Kenapa harus saling menyalahkan jika kenyataannya kita bisa saling memperbaiki? Oke kali ini, kita berdua harus di hadapkan cara berfikir “apa yang salah?” bukan “siapa yang salah?” berusaha menyadari, kenapa aku dan kamu bahkan tidak sepemikiran setiap kali berselisih? Bahkan untuk hal sepele sekali pun.
Kenapa…

Harus saling menghancurkan, ketika kita bisa di persatukan?


Sabtu, 08 Juni 2013

Dan Dia Tidak Menyesal MEMILIHMU...

Entah sudah berapa banyak air mata yang diteteskan hanya untuk masalah sepele namun akhirnya jadi besar, entah sudah berapa banyak kata kasar terucap ketika emosi tidak mendapat penyelesaian. Entah berapa kali kita merasa menyesal telah memilih ketika "kita bahkan tidak ingin mengerti"?

Tapi apakah kamu tau?
Dia berusaha? Berusaha sekuat tenaga untuk tenang agar air matanya tidak jatuh walaupun lagi-lagi air matanya menetes lembut di pipinya.

Tapi apakah kamu tau?
Dia berusaha menahan egonya ketika kata-kata kasarmu menghantam dinding hatinya

Entah berapa kali dia menyakinkan dirinya sendiri bahwa memilihmu adalah jalan terbaik yang tak pernah ia sesali?

Yakin,
Berapa kali dia memutuskan untuk menjauh. Memutuskan mencari bahagianya sendiri namun tanpa di sadari dia kembali pulang padamu.

Dia berusaha... Berusaha memahami bahwa letihnya kegiatanmu menjadikan dia lampiasan amarahmu.
Dia berusaha.... Berusaha agar air matanya hanya tertahan dan tidak tertumpah sesuai keinginanmu. Kamu taukan hatinya terluka?

Bagaimana bisa, dia bertutur kata lembut ketika kamu bilang kamu cemburu? Sedangkan kamu? Coba lihat, apa kamu sudah lakukan hal yang sama? Tidakkan?

Dia yang punya mimpi bersamamu, dia yang merajut asanya untukmu. Dia yang sedang berusaha memantaskan dirinya untukmu. Did you see that?
Seletih apapun dia, semuncul apapun egonya, dia selalu merasa bersalah bahwa dia menyakitimu. Coba tengok barang sebentar. Apa dia masih ada untuk menungguimu?

Di luar sana, banyak yang jauh lebih berarti daripada kamu. Yang menjanjikan kebahagiaan mutlak, ah tidak usah munafik kamu pasti akan berkata "Yasudah, kalau memang ada yang lebih dari aku. Pergilah" tapi yakinlah, kamu akan menyesal melepaskan orang terbaik di hidupmu...

Dia tau ada orang yang lebih baik daripada kamu. Tapi kamu tau? Seperti apapun kamu, dia tetap memilihmu...