Pernahkan menyesal di lahirkan di dunia ini? ah aku rasa semua orang pernah merasa seperti itu. Entah, karna kecewa atau apapun itu di sebut. Aku sendiri pernah merasakan hal itu, bukan bukan... Ini bukan curhat.
Pernahkan kesal karna semua orang memandang sebelah mata atas apa yang kita lakukan? Atau bahkan membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain yang bisa di bilang "dia segalanya" . Aku bahkan sering membandingkan diri dengan orang lain ketika aku merasa "oke, i can't do like he/she doing!"
Pernah ada pertanyaan "kenapa harus di lahirin di dunia ini kalo gini?"
Pertanyaan demi pertanyaan yang sama pasti sering terlintas di otak kita walaupun kita tidak menyadari itu.
But.
We're never know that God has a purpose. Maksudnya, kita lahir di dunia ini bukan tanpa sebab. Kita lahir di dunia ini dengan tujuan. Entah apapun tujuan apapun yang di rencanakan Tuhan. Itulah sebabnya.
"Kita lahir bukan tanpa kekosongan ruang", kita ada karna cerita di buku kontrak kita seperti itu.
Apapun yang kamu lakukan, apapun cerita yang sudah kamu goreskan, apapun yang pernah kamu sesalkan. Bukan berarti tanpa jawaban..
Sadar atau tidak,
Kita di lahirkan dengan kebahagiaan dan kesakitan di sela-selanya. Dengan cerita dan tujuan di akhirnya.
"kamu hebat dengan caramu memandang sesuatu, karna kamu dilahirkan dengan tujuan. Kamu di lahirkan dengan sejuta mimpi. Kamu di lahirkan untuk menjadi seseorang. Ya! Orang hebat, orang yang akan menantang dunia dengan kebaikan yang kamu miliki! Kamu bisa dengan caramu.. Ya, kamu.. Kamu yang pernah merasa pesimis dengan dunia. Percayalah, ada kekuatan yang bahkan kamu ga pernah tau..."
Senin, 07 Januari 2013
Kamu Kuatkan?
Hari ini mendung ya? Ah... Setiap hari juga hujan.
Kamu masih duduk di tepiannya? Sudah, kamu waktunya berhenti. Kamu pernah tanyakan, berhenti apa? Berhenti menangis, berhenti menyesali keadaan.
Ini sudah terjadi, kamu terlanjur masuk dan basah. Bukan berarti kamu tidak bisa keluar dan mengeringkan diri kan?
Kamu jangan pernah merasa bahwa ini sia-sia. Tidak ada yang sia-sia. Ayo sudah, berdirilah. Hadapi ini semua. Kamu bukan pengecut yang takut dengan kenyataan bahwa kamu sudah tidak bersama dia lagi kan?
Iya, semua orang pernah merasakan takut. Begitu juga aku. Tapi keberanianku jauh lebih besar di banding rasa takutku. Yang ku takutkan hanya satu, aku membiarkan rasa sakit itu menjalar hingga ke urat nadiku.
Bukan, bukan tidak bisa di sembuhkan. Bisa, hanya saja kamu jangan menunggu waktu yang menyembuhkan. Lakukan sendiri karna kamu yang merasakan.
Jangan terus-terusan kamu merasakan dengan rasa. Beri kesempatan akalmu menyembuhkan. Kamu tau, kamu lebih baik berdiri sekarang, tantang dunia. Dan buktikan kamu bisa. Karna kamu hebat dengan caramu berfikir dan caramu mencintai...
Kamu masih duduk di tepiannya? Sudah, kamu waktunya berhenti. Kamu pernah tanyakan, berhenti apa? Berhenti menangis, berhenti menyesali keadaan.
Ini sudah terjadi, kamu terlanjur masuk dan basah. Bukan berarti kamu tidak bisa keluar dan mengeringkan diri kan?
Kamu jangan pernah merasa bahwa ini sia-sia. Tidak ada yang sia-sia. Ayo sudah, berdirilah. Hadapi ini semua. Kamu bukan pengecut yang takut dengan kenyataan bahwa kamu sudah tidak bersama dia lagi kan?
Iya, semua orang pernah merasakan takut. Begitu juga aku. Tapi keberanianku jauh lebih besar di banding rasa takutku. Yang ku takutkan hanya satu, aku membiarkan rasa sakit itu menjalar hingga ke urat nadiku.
Bukan, bukan tidak bisa di sembuhkan. Bisa, hanya saja kamu jangan menunggu waktu yang menyembuhkan. Lakukan sendiri karna kamu yang merasakan.
Jangan terus-terusan kamu merasakan dengan rasa. Beri kesempatan akalmu menyembuhkan. Kamu tau, kamu lebih baik berdiri sekarang, tantang dunia. Dan buktikan kamu bisa. Karna kamu hebat dengan caramu berfikir dan caramu mencintai...
Kamis, 03 Januari 2013
Puzzle
Masih terasa sisa percecokan kita dua jam yang lalu, dengan sisa genangan air becek selepas hujan. Senja masih engga menampakan sinarnya dan membiarkan mendung memenuhi singgasananya. Miris ya? Bukan miris, tapi rasa itu terinjak lalu terkapar.
Aku masih menutup diri untuk menemui malam, biar gelap yang sambut kepingannya. Kamu sudah temukan pecahannya? Dimana? Jangan kamu bawa, kembalikan itu padaku. Itu bagian tubuhku yang seharusnya kamu kembalikan, bukan kamu ambil lalu kamu sembunyikan. Aku letih mencari puzzle yang kurang satu ini. Bukannya dulu aku sudah izinkan kamu bawa tapi kamu hancurkan berkali-kali sampai akhirnya kamu hilangkan?! Lalu ketika aku sudah menemukan, kamu minta itu kembali. Aku beri kesempatan kesekian kali, oke. Sekian kali, lalu kamu sembunyikan dan kamu bilang "aku cuma gamau kamu pergi, itu aja"
Aku masih menutup diri untuk menemui malam, biar gelap yang sambut kepingannya. Kamu sudah temukan pecahannya? Dimana? Jangan kamu bawa, kembalikan itu padaku. Itu bagian tubuhku yang seharusnya kamu kembalikan, bukan kamu ambil lalu kamu sembunyikan. Aku letih mencari puzzle yang kurang satu ini. Bukannya dulu aku sudah izinkan kamu bawa tapi kamu hancurkan berkali-kali sampai akhirnya kamu hilangkan?! Lalu ketika aku sudah menemukan, kamu minta itu kembali. Aku beri kesempatan kesekian kali, oke. Sekian kali, lalu kamu sembunyikan dan kamu bilang "aku cuma gamau kamu pergi, itu aja"
Sabtu, 22 Desember 2012
Rasa Ini, sekedarnya kah?
Sudah ku bilang bukan? Ini bukan mauku! sama sekali bukan mauku. Aku sudah menentang segala hal, berjuang hanya untuk sesuatu yang apa bisa di bilang pantas di perjuangkan? Aku rasa tidak, bagaimana bisa kamu bilang aku tidak menghargai sedangkan aku enggan menoleh sedikit saja ke arah aku berusaha?
Mungkin aku harus menghilang dulu agar kamu menghargai sebuah perasaan? Itu pun kalau kamu peduli.. Percumakan jika terus aku tentang segala hal ini. Biar saja, segala rasa itu membumbung tinggi. Hingga di raih malaikat. Di tiup jadi ketegaran yang kamu tak akan pernah temui di orang lain.
Aku masih menantikan pelangi, sudah ku serahkan pada hujan... Tapi kurindukan senja.. Senjaku masih di gantikan mendung akhir-akhir ini.. Biar ku rengkuh sendiri sakit dan kecemasan ini..
Biar ku peluk sendiri rasa cinta ini, meski nanti aku beranjak dari tempat sekarang aku berpijak. Melepaskan sandaran untukmu. Suatu saat, ketika aku pergi. Percayalah, bahagiamu bukan aku...
Mungkin aku harus menghilang dulu agar kamu menghargai sebuah perasaan? Itu pun kalau kamu peduli.. Percumakan jika terus aku tentang segala hal ini. Biar saja, segala rasa itu membumbung tinggi. Hingga di raih malaikat. Di tiup jadi ketegaran yang kamu tak akan pernah temui di orang lain.
Aku masih menantikan pelangi, sudah ku serahkan pada hujan... Tapi kurindukan senja.. Senjaku masih di gantikan mendung akhir-akhir ini.. Biar ku rengkuh sendiri sakit dan kecemasan ini..
Biar ku peluk sendiri rasa cinta ini, meski nanti aku beranjak dari tempat sekarang aku berpijak. Melepaskan sandaran untukmu. Suatu saat, ketika aku pergi. Percayalah, bahagiamu bukan aku...
Alasan?
"Seharusnya perbedaan itu menyatukan, bukannya begitu?"
Berapa banyak orang berbicara tentang perbedaan? Baik komitmen, prinsip, sifat... Berapa banyak orang mengelu-elukan tentang perbedaan yang seharusnya menyatukan? Tapi berapa banyak yang menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berpisah?
Jadi apa sebenarnya perbedaan kalau di definisikan?
Perbedaan yang seharusnya menyatukan,
Perbedaan yang seharusnya saling melengkapi,
Tapi perbedaan pula alasan untuk berpisah.
Tidak sedikit, orang yang berjuang di tengah lelah sebuah perbedaan. Di tengah hiruk pikuk kecemasan perbedaan untuk disatukan. Berharap ada jalan untuk di berikan hasil. Memohon pada Tuhannya untuk segera di berikan jalan keluar.
Perbedaan di hadapkan pada toleransi, pada keyakinan yang akal sehat kadang tak mampu menentang barang sekalipun. Perbedaan adalah hal yang sering di jadikan alasan, bersatu, berpisah, bahkan saling menghancurkan.
Di tengah kecemasan, ku renggut semua titik habis rasaku. Untuk sebuah segala yang berbeda, meski aku tau. Jalan yang kita tuju itu sama.
Berapa banyak orang berbicara tentang perbedaan? Baik komitmen, prinsip, sifat... Berapa banyak orang mengelu-elukan tentang perbedaan yang seharusnya menyatukan? Tapi berapa banyak yang menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berpisah?
Jadi apa sebenarnya perbedaan kalau di definisikan?
Perbedaan yang seharusnya menyatukan,
Perbedaan yang seharusnya saling melengkapi,
Tapi perbedaan pula alasan untuk berpisah.
Tidak sedikit, orang yang berjuang di tengah lelah sebuah perbedaan. Di tengah hiruk pikuk kecemasan perbedaan untuk disatukan. Berharap ada jalan untuk di berikan hasil. Memohon pada Tuhannya untuk segera di berikan jalan keluar.
Perbedaan di hadapkan pada toleransi, pada keyakinan yang akal sehat kadang tak mampu menentang barang sekalipun. Perbedaan adalah hal yang sering di jadikan alasan, bersatu, berpisah, bahkan saling menghancurkan.
Di tengah kecemasan, ku renggut semua titik habis rasaku. Untuk sebuah segala yang berbeda, meski aku tau. Jalan yang kita tuju itu sama.
Selasa, 18 Desember 2012
DI balik perbedaan kami....
Aku kenal dia mungkin belum terlalu lama, sekitaran waktu kuliah semester 2. Itu pun kenalnya ngga sengaja. Dan ya, aku ngga pernah berfikir untuk sedekat ini sama dia. Namanya Putri, gatau mau sebut dia sahabat atau saudara atau memang sebenarnya malah dua-duanya?Selalu aja ngga pernah bisa normal sama dia kalau uda ketemu, ada aja autisnya. Paling banter kalau kita lagi main uno. Hahahaha. Yang namanya temenan, pasti ada ributnya kan? Pernah diem-dieman, ujung-ujungnya juga kita baikan lagi.
Hina ngga si? Waktu mau sahur on the road Putri nginep di kosan, dia online twitter lewat laptop trus aku lewat HP. Bisa banget ya onlen sebelahan mentionan. Atau kayak dia tiba-tiba cengengesan waktu ketemu di kampus. Dan akhirnya saya pura-pura ngga kenal :p
Banyak sebenarnya kehinaan atau malah kasih sayang? :O entahlah ya, Cuma emang walaupun kadang kalau ketemu ngga sapa-sapaan. Atau malah ngomong sekedarnya aja, tapi tetep aja ujung-ujungnya bakal ngobrol lagi. Hahahhaha.
![]() |
| dari kiri, Faiky, Rara, Putri, Luky |
![]() |
| abis renang :D |
![]() |
| abis kelas |
we're will always be friends.
Selasa, 04 Desember 2012
"Jatuh dan Mencinta"
Mungkin berkali aku memilih "Jatuh dan Mencinta" tanpa mengerti makna kedua kata tersebut. Lalu melalang buana, melanjutkan fantasi yang notabenenya masih sebagai tanda tanya. Terkadang hanya perlu menutup mata, lalu biarkan otak berputar membawa semua hal yang ingin ku raih. Di pikir, setiap lembar yang di tulis monoton ya? Pasti berfikir, "memang Tuhan tidak menghapus bagian-bagiannya?"
Berkali terjatuh, belum pecah. Masih retak, untung belum jadi serpihan. Bahkan jaringan urat pun masih memberikan kesempatan untuk satu? Tunggu, ini sebenarnya tentang apa? ini tentang "Jatuh dan Mencinta" ~ pernah dengar tentang "Segala yang terjatuh pasti hancur..." ungkapan ini ada benarnya, setiap jatuh cinta. Secara suka rela menyerahkan segala kekuatan. tanpa tau bagian itu akan di gunakan untuk menghancurkan setiap jengkal pertahanan yang di buat?
Lebih baik mencinta, tapi... Jatuh dan Mencinta itu berhubungan ya? Karna ketika mencintai seseorang, merelakan inti dari serpihan hati. Merelakan luka lama di buka lagi, ya kan?
"Ada manusia, di takdirkan untuk saling mencintai tapi tak dapat memiliki" nah, terhubung lagi bukan? Sekarang pertanyaannya, pilih hancur atau retak? Atau bahkan lebih memilih mencintai, meski rela tidak memiliki? Ah... Lagi-lagi kan berhubungan dengan kata "Jatuh dan Mencinta" ?
Berkali terjatuh, belum pecah. Masih retak, untung belum jadi serpihan. Bahkan jaringan urat pun masih memberikan kesempatan untuk satu? Tunggu, ini sebenarnya tentang apa? ini tentang "Jatuh dan Mencinta" ~ pernah dengar tentang "Segala yang terjatuh pasti hancur..." ungkapan ini ada benarnya, setiap jatuh cinta. Secara suka rela menyerahkan segala kekuatan. tanpa tau bagian itu akan di gunakan untuk menghancurkan setiap jengkal pertahanan yang di buat?
Lebih baik mencinta, tapi... Jatuh dan Mencinta itu berhubungan ya? Karna ketika mencintai seseorang, merelakan inti dari serpihan hati. Merelakan luka lama di buka lagi, ya kan?
"Ada manusia, di takdirkan untuk saling mencintai tapi tak dapat memiliki" nah, terhubung lagi bukan? Sekarang pertanyaannya, pilih hancur atau retak? Atau bahkan lebih memilih mencintai, meski rela tidak memiliki? Ah... Lagi-lagi kan berhubungan dengan kata "Jatuh dan Mencinta" ?
Langganan:
Postingan (Atom)


