Untuk Bunda,
Selamat malam Bunda.. Mungkin bunda sudah terlelap dengan sejuta pikiran yang bergelayut di kepala bunda..
Entah sekedar memikirkan ananda, atau lainnya..
Bunda, bunda adalah perempuan terkuat yang pernah ananda tau. Dengan kepingan kesabaran merawat ananda. Yang rela menitikkan air mata ketika ananda salah.. Ananda buat kecewa..
Bunda.. Maafkan ananda, jika hingga sejauh ini. Selangkah pun ananda belum bisa membahagiakan bunda..
Bunda.. Bunda adalah salah satu alasan kenapa ananda kuat hingga saat ini.. Bunda adalah alasan kenapa ananda mampu berjuang.. Bunda, lihat bunda.. Lihat.. Ananda sudah dewasa sekarang.
Bunda.. Ridhoi ananda melangkah.. Ridhoi ananda dengan setiap doa yang kau panjatkan setiap sepertiga malam.. Ridhoi ananda yang kau sebut di tiap doa dalam hembus nafasmu..
Bunda..
Jangan biarkan ananda terjatuh bunda.. Ingatkan, ingatkan ananda. Bahwa bunda siap menarik ananda, ketika ananda terjatuh.. Panjang umur bundaku sayang.. Sehat selalu..
Kamis, 11 April 2013
Rabu, 10 April 2013
Untuk Tuhan, Malam ini
Tuhan,
Nanti kalau aku sudah nggak
ada.. Apa ada yang akan menangisi aku?
Nanti kalau aku sudah nggak
ada.. Apa ada yang akan merindukan aku?
Tuhan,
Kalau aku sudah di panggil pulang, bagaimana mereka yang
membenciku?
Tuhan,
Kalau aku sudah pulang, apa ada yang akan mendoakan aku? Tanpa
terpaksa?
Tuhan,
Aku belum selesai dengan tugasku… Boleh aku minta waktu?
Tuhan..
Mungkin ini satu-satunya kesempatan, aku bisa menundukkan
hati.. Tenggelam dalam air mata.
Terima kasih Tuhan, terima kasih..
Rindu yang terlupakan, terluapkan sudah.. Terima kasih..
Selasa, 09 April 2013
Harapan di Dalam Asap Rokok
Tidak bertemu senja lagi rupanya, sore ini turun hujan. Aku hanya bisa menikmati hujan lewat jendela yang bersanding sebelah pintu kamarku, lagi melow. Tentu aja jadi teman setiaku. Aku meninggalkan sejenak rutinitasku, kali ini aku ya.. Mungkin sedang merindu. Entah, merindu dengan dia yang sedang jauh di sana. Ngomong-ngomong, kau tak perlu taulah aku siapa dan apa yang aku lakukan.
Hei, suara hujan ternyata lebih lantang dibanding laguku. Lantas ku matikan, aku berpindah tempat. Kenapa begitu sunyi? Atau hanya perasaanku?
Maaf kopi, ku diamkan kamu hingga asap putihmu tak lagi membumbung. Tunggu, tetap disini. Aku hanya ingin menyalakan sebatang rokok. Aku penat, entah. Semua seperti bertabrakan. Tapi sudahlah, aku hanya ingin tersenyum dan menikmati suara air yang turun dengan derasnya. Ingin bergabung, tapi.... Sudahlah, biar aku tetap disini. Hujan, aku di temani sebatang rokok ini. Menyaksikanmu menari indah di ujung dedaunan. Sepintas ku lihat asap yang ku hembuskan.Asap itu langsung menari indah ke atas, menerjangmu walaupun menghilang karna sapuanmu. Ah sepertinya aku malu, malu bahwa kenyataannya harapan tinggal harapan ya? Setelah hadangan itu lantas aku berhenti. Laki-laki macam apa aku?
Dia yang aku cinta di renggut, aku diam saja. Ya, asal dia bahagia pikirku. Aku takut bermimpi, takut berharap setelah semua harapan itu hancur begitu saja. Mereka bilang aku bahagia, mungkin aku punya semua yang aku butuhkan. Tapi tetap saja, aku hanya ingin dia. Lagi-lagi, ku hisap dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan sambil mataku terpejam. Aku menikmatinya...
Sekali lagi, ku hisap dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan. Sambil aku ucapkan sedikit harapanku. Biar dia hilang di terpa hujan, asal harapanku di bawa angin ke langit dan di jadikan sebuah kenyataan. Aku terkadang ingin menyerah kataku, tapi lagi-lagi. Aku di hadapkan bahwa aku bisa lebih baik dari ini. Lebih bahagia dari ini, hujan... Kamu dengar aku? Aku masih melihatmu dengan seksama. Terkadang turunnya kamu adalah sebuah tujuan, yakan? Sama, mungkin aku terjatuh adalah sebuah tujuan. Entah pesan apa yang ingin di sampaikan Tuhan..
Hei hujan,
sebatang saja cukuplah, toh ceritaku usai. Jangan hanyutkan ceritaku ya? Simpan dan bawa ia kelaut. Seperti sungai yang akhirnya bermuara ke laut lepas. Sampaikan salamku pada senja yang masih tidak kau izinkan dia keluar, barang kali kau ingin menjaganya ya? Tenang, aku tidak lagi bersedih, meski ia menikahi orang lain. Aku pasti menikahi perempuan terbaik nantinya, ya sekarang yang mungkin berteduh. Sampaikan pada senja, aku merindukan dia.
Harapanku cukup.. Cukup membumbung tinggi bersama asap rokokku tadi. Biar ia hilang, asal harapanku sampai ke Tuhan..
Hei, suara hujan ternyata lebih lantang dibanding laguku. Lantas ku matikan, aku berpindah tempat. Kenapa begitu sunyi? Atau hanya perasaanku?
Maaf kopi, ku diamkan kamu hingga asap putihmu tak lagi membumbung. Tunggu, tetap disini. Aku hanya ingin menyalakan sebatang rokok. Aku penat, entah. Semua seperti bertabrakan. Tapi sudahlah, aku hanya ingin tersenyum dan menikmati suara air yang turun dengan derasnya. Ingin bergabung, tapi.... Sudahlah, biar aku tetap disini. Hujan, aku di temani sebatang rokok ini. Menyaksikanmu menari indah di ujung dedaunan. Sepintas ku lihat asap yang ku hembuskan.Asap itu langsung menari indah ke atas, menerjangmu walaupun menghilang karna sapuanmu. Ah sepertinya aku malu, malu bahwa kenyataannya harapan tinggal harapan ya? Setelah hadangan itu lantas aku berhenti. Laki-laki macam apa aku?
Dia yang aku cinta di renggut, aku diam saja. Ya, asal dia bahagia pikirku. Aku takut bermimpi, takut berharap setelah semua harapan itu hancur begitu saja. Mereka bilang aku bahagia, mungkin aku punya semua yang aku butuhkan. Tapi tetap saja, aku hanya ingin dia. Lagi-lagi, ku hisap dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan sambil mataku terpejam. Aku menikmatinya...
Sekali lagi, ku hisap dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan. Sambil aku ucapkan sedikit harapanku. Biar dia hilang di terpa hujan, asal harapanku di bawa angin ke langit dan di jadikan sebuah kenyataan. Aku terkadang ingin menyerah kataku, tapi lagi-lagi. Aku di hadapkan bahwa aku bisa lebih baik dari ini. Lebih bahagia dari ini, hujan... Kamu dengar aku? Aku masih melihatmu dengan seksama. Terkadang turunnya kamu adalah sebuah tujuan, yakan? Sama, mungkin aku terjatuh adalah sebuah tujuan. Entah pesan apa yang ingin di sampaikan Tuhan..
Hei hujan,
sebatang saja cukuplah, toh ceritaku usai. Jangan hanyutkan ceritaku ya? Simpan dan bawa ia kelaut. Seperti sungai yang akhirnya bermuara ke laut lepas. Sampaikan salamku pada senja yang masih tidak kau izinkan dia keluar, barang kali kau ingin menjaganya ya? Tenang, aku tidak lagi bersedih, meski ia menikahi orang lain. Aku pasti menikahi perempuan terbaik nantinya, ya sekarang yang mungkin berteduh. Sampaikan pada senja, aku merindukan dia.
Harapanku cukup.. Cukup membumbung tinggi bersama asap rokokku tadi. Biar ia hilang, asal harapanku sampai ke Tuhan..
Senin, 08 April 2013
Untitled ; Random
"Apa masih bisa bertahan dengan sebuah rasa yang sudah berubah?"
"Berubah? Maksudnya?"
"Aku kehilangan rasa nyaman"
Adil? Aku rasa tidak.
You already fight, struggle for everything. Mungkin hanya rasa jenuh, ini sementara. Bukan selamanya.
Tapi berjanjilah,
You won't be change. Tetap seperti ini sampai aku kembali dengan rasaku, aku bukan egois. Aku masih ingin lihat kamu disisiku. I'll try to struggle also. For you of course.
For God sake,
Ini hatiku, ini sebuah rasaku. Malam ini sedikit random ya?
Perjalanan ini tidak akan terhenti begitu saja kok.. Ini hanya sebuah tekanan, aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Bahkan menyalahkan keadaan dan waktu sekalipun.
Mungkin aku hanya perlu berdamai.
Denganmu, keadaan dan dengan waktu..
"I just tired with this,"
"Berubah? Maksudnya?"
"Aku kehilangan rasa nyaman"
Adil? Aku rasa tidak.
You already fight, struggle for everything. Mungkin hanya rasa jenuh, ini sementara. Bukan selamanya.
Tapi berjanjilah,
You won't be change. Tetap seperti ini sampai aku kembali dengan rasaku, aku bukan egois. Aku masih ingin lihat kamu disisiku. I'll try to struggle also. For you of course.
For God sake,
Ini hatiku, ini sebuah rasaku. Malam ini sedikit random ya?
Perjalanan ini tidak akan terhenti begitu saja kok.. Ini hanya sebuah tekanan, aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Bahkan menyalahkan keadaan dan waktu sekalipun.
Mungkin aku hanya perlu berdamai.
Denganmu, keadaan dan dengan waktu..
"I just tired with this,"
Selasa, 26 Maret 2013
Ekspedisi singkat tentang perjalanan sebuah perasaan.
Hai, bertemu lagi kali ini. Otak sedikit penuh, dan jenuh. Ah pening, biar sedikit kupaksa menulis ya?
Seharusnya baik-baik saja, perasaan yang tadinya sensitive, peka. Akhirnya? Oke, kita sebut saja ini minus. Senggolan berulang kali tanpa sadar akhirnya buat segala hal berubah.
Egois, Jahat? Terserah kamu mau sebut ini apa. Tapi begini adanya, sebenarnya perasaan ini besar. Awalnya, iya. Sampai berulang kali batas kesabaran yang aku ciptakan kamu goyahkan berulang kali. Aku tidak menyalahkan siapapun, catat ya! Sama sekali tidak menyalahkan siapapun atas hal ini. Tapi bersyukurlah aku masih di beri kesempatan untuk tersenyum. Ntah karna siapa, hahaha. Setidaknya itu meringkankan bebanku sedikit.
Hei, hei! Hampir mati ini, sedikit lakukan hal yang membuat perasaanku kembali. Buat aku peka lagi tentang hal-hal kecil tentang kamu. Aku sudah bilangkan, mumpung perasaan ini belum hilang sama sekali. Tapi, oke. Terserah apalah. Aku mulai sedikit mati rasa. Iya, ekspedisinya usai. Aku menanti kali ini. Aku cuma bisa menghembuskan nafas panjang. Sedikit lagi.. Untuk bertahan.
Seharusnya baik-baik saja, perasaan yang tadinya sensitive, peka. Akhirnya? Oke, kita sebut saja ini minus. Senggolan berulang kali tanpa sadar akhirnya buat segala hal berubah.
Egois, Jahat? Terserah kamu mau sebut ini apa. Tapi begini adanya, sebenarnya perasaan ini besar. Awalnya, iya. Sampai berulang kali batas kesabaran yang aku ciptakan kamu goyahkan berulang kali. Aku tidak menyalahkan siapapun, catat ya! Sama sekali tidak menyalahkan siapapun atas hal ini. Tapi bersyukurlah aku masih di beri kesempatan untuk tersenyum. Ntah karna siapa, hahaha. Setidaknya itu meringkankan bebanku sedikit.
Hei, hei! Hampir mati ini, sedikit lakukan hal yang membuat perasaanku kembali. Buat aku peka lagi tentang hal-hal kecil tentang kamu. Aku sudah bilangkan, mumpung perasaan ini belum hilang sama sekali. Tapi, oke. Terserah apalah. Aku mulai sedikit mati rasa. Iya, ekspedisinya usai. Aku menanti kali ini. Aku cuma bisa menghembuskan nafas panjang. Sedikit lagi.. Untuk bertahan.
Akhir Bulan Maret ; Itu? Setelah Dia, lalu Aku?
Hai, bagaimana kabarnya? Sudah lama aku tidak bercengkrama. Kabar baik, hari ini di kotaku sedang cerah. Belum mendung kalau aku bilang.
Kali ini, aku ingin bercerita lagi. Bolehkan?
Sudah berapa lama terakhir kali aku menorehkan catku dengan kuas patahku? Pasti sudah lama sekali ya, dan aku menyimpan rindu ini sendirian. Sejauh ini aku bingung harus membuang segala hal, ketakutan, keraguan bahkan semua yang sedang bergelayut di otakku ini. Dengan koneksi yang tersendat-sendat, kamu pikir semua akan terbilang mudah?
Ini bukan tentang kamu dan masa lalumu, atau aku dengan masa laluku. Ini tentang, bagaimana kamu pernah memberikan itu ke orang lain dan akhirnya memberikan itu kepadaku. Hei, aku bukan penerima barang bekas. Mungkin ini perkara keisenganku, oke. Aku minta maaf, aku tau kamu benci ketika masa lalumu di buka lagi. Kenapa? Mengingatkan tentang moment-moment yang pada akhirnya membuat kamu "terpuruk"? Tapi kalau bukan begini, mungkin pertanyaanku sampai kapan akan terus jadi tanda tanya. Setidaknya sekarang, aku tau itu bukan hanya untukku. Tapi pernah untuk masa lalumu. Kamu pikir ini adil?
Ah yasudahlah, toh apapun yang aku sampaikan dan apa yang kamu sampaikan cuma akan saling berbenturan seperti biasa. Kitakan sama-sama kutub selatan.
Ngomong-ngomong, apakabar senja? Terakhir kali aku bertemu beberapa waktu yang lalu. Aku masih bertemu bintang dan bulan setiap malam akhir-akhir ini karna hujan sedang tidak menyapaku setiap malam.
Ah cat dan tintaku sudah mulai menipis, begitu juga kanvasku. Biar ku tutup dulu ya ceritaku hari ini. Sampai aku siapkan cat dan tintaku yang baru..
Kali ini, aku ingin bercerita lagi. Bolehkan?
Sudah berapa lama terakhir kali aku menorehkan catku dengan kuas patahku? Pasti sudah lama sekali ya, dan aku menyimpan rindu ini sendirian. Sejauh ini aku bingung harus membuang segala hal, ketakutan, keraguan bahkan semua yang sedang bergelayut di otakku ini. Dengan koneksi yang tersendat-sendat, kamu pikir semua akan terbilang mudah?
Ini bukan tentang kamu dan masa lalumu, atau aku dengan masa laluku. Ini tentang, bagaimana kamu pernah memberikan itu ke orang lain dan akhirnya memberikan itu kepadaku. Hei, aku bukan penerima barang bekas. Mungkin ini perkara keisenganku, oke. Aku minta maaf, aku tau kamu benci ketika masa lalumu di buka lagi. Kenapa? Mengingatkan tentang moment-moment yang pada akhirnya membuat kamu "terpuruk"? Tapi kalau bukan begini, mungkin pertanyaanku sampai kapan akan terus jadi tanda tanya. Setidaknya sekarang, aku tau itu bukan hanya untukku. Tapi pernah untuk masa lalumu. Kamu pikir ini adil?
Ah yasudahlah, toh apapun yang aku sampaikan dan apa yang kamu sampaikan cuma akan saling berbenturan seperti biasa. Kitakan sama-sama kutub selatan.
Ngomong-ngomong, apakabar senja? Terakhir kali aku bertemu beberapa waktu yang lalu. Aku masih bertemu bintang dan bulan setiap malam akhir-akhir ini karna hujan sedang tidak menyapaku setiap malam.
Ah cat dan tintaku sudah mulai menipis, begitu juga kanvasku. Biar ku tutup dulu ya ceritaku hari ini. Sampai aku siapkan cat dan tintaku yang baru..
Jumat, 15 Februari 2013
Kamu Butuh Satu Sayap Lagi untuk Terbang
apa kamu sudah selesai bercumbu dengan egomu? Lalu menepikannya sebentar dan mendengarkan bisikku? Ya.. Itu juga kalau kamu mau.
Apa kamu sudah selesai bermain dengan egomu dan melihatku terbang terseok-seok karna sayapku patah? Kamu sudah berdamai rupanya? Setelah memaksakan bahwa kamu mampu terbang dengan satu sayap dan mengabaikan aku yang berjuang agar kamu tidak terjatuh ke tanah. Aku melindungi kamu dibanding diriku sendiri. Tapi sepertinya kamu masih enggan ya melihat ke sekelilingmu?
Sekarang kamu baru sadar bahwa aku terseok-seok sendirian karna sayapku patah, dan kamu baru sadar bahwa 'ada aku' ? Ini semua tidak akan berhasil kamu tahu? Jika kamu memaksa untuk berjalan sendirian dan membiarkanku berjuang. Kamu tahu aku selalu punya tempat untuk pulang, bahkan tanpa kamu sekalipun. Satu sayapku siap menopangku, sembari ku perbaiki sayapku yang satunya. Jangan biarkan aku terbang menjauh setelah sayapku siap membawaku pergi.
Apa kamu sudah selesai bermain dengan egomu dan melihatku terbang terseok-seok karna sayapku patah? Kamu sudah berdamai rupanya? Setelah memaksakan bahwa kamu mampu terbang dengan satu sayap dan mengabaikan aku yang berjuang agar kamu tidak terjatuh ke tanah. Aku melindungi kamu dibanding diriku sendiri. Tapi sepertinya kamu masih enggan ya melihat ke sekelilingmu?
Sekarang kamu baru sadar bahwa aku terseok-seok sendirian karna sayapku patah, dan kamu baru sadar bahwa 'ada aku' ? Ini semua tidak akan berhasil kamu tahu? Jika kamu memaksa untuk berjalan sendirian dan membiarkanku berjuang. Kamu tahu aku selalu punya tempat untuk pulang, bahkan tanpa kamu sekalipun. Satu sayapku siap menopangku, sembari ku perbaiki sayapku yang satunya. Jangan biarkan aku terbang menjauh setelah sayapku siap membawaku pergi.
Langganan:
Postingan (Atom)
